Kamis, 31 Maret 2011

INFEKSI YANG MENYERTAI KEHAMILAN DAN PERSALINAN

A.     RUBELLA

Rubella artinya campak jerman yaitu infeksi virus ringan yang ditandai dengan ruam merah muda, demam dan pembesaran kelenjar limfe.
Penyakit ini yang dijumpai di Indonesia.infeksi pada kehamilan dapat menimbulkan kelainan bawaan. Rubella dapat meningkatkan angka kematian perinatal dan sering menyebabkan cacat bawaan pada janin. Sering dijumpai apabila infeksi dijumpai pada kehamilan trimester I (30-50%).
Bentuk kelainan bawaan diantaranya :
-       Mata: katarak, glaukoma, dan mikroftalmia.
-       Telinga: duktus akteriosus persistem, septum jantung tetap terbuka, stenosis arteria pulmonalis.
-       Susunan saraf pusat: meningoensefalitis, ganguan intelegensia

Dapat dijumpai kelainan: keterlambatan pertumbuhan janin, hepatoplenomegali, ikterus, kelainan kromosom, trombositopenia, dan anemia.
Bayi merupakan sumber infeksi (karier). Pengobatan tidak ada yang bersifat khas, hanya diberikan simtomatis gamma globulin atau vaksin rubela.

Diagnosis
Diagnosis rubella tidak selalu mudah karena gejala-gejala kliniknya hampir sama dengan penyakit lain, kadang tidak jelas atau tidak ada sama sekali. Virus pada rubella sering mencapai dan merusak embrio dan fetus. Diagnosis pasti dapat dibuat dengan isolasi virus atau dengan dotemukannya kenaikan titer anti rubella  dan terjadi leukopeni dengan leukosit kurang dari 4.ooo ml.

Tanda dan Gejala klinis:
-       Demam-ringan
-       Merasa mengantuk
-       Sakit tenggorok
-       Kemerahan sampai merah terang atau pucat, menyebar secara cepat dari wajah ke seluruh tubuh, kemudian menghilang secara cepat
-       Kelenjar leher membengkak
-       Durasi 3-5 hari

Hingga kini tidak ada obat-obatna yang dapat mencegah viremia pada orang yang tidak kebal. Manfaat gamaglobulin dalam hal ini masih diragukan, yang lebih manjur ialah vaksin rubella. Akan tetapi, vaksinasi ini sering menimbulkan artralgia atau arthritis, dan pula vaksinasi yang dilakukan tidak lama sebelum terjadinya kehamilan atau dalam kehamilan dapat menyebabkan infeksi janin. Karena itu, lebih baik vaksinasi diberikan sebelum perkawinan. Pemberian vaksin pada wanita selam kunjungan prekonsepsi dianjurkan untuk uji serologi varicella apabila klien selama masa kanak-kanaknya tidak mempunyai riwayat infeksi, kontraindikasi pada kehamilan adalah menghindari konsepsi selama 3 bulan setelah vaksinasi.

Pencegahan penularan rubella
Pencegahan dilakukan dengan menghindari penularan dengan vaksinasi dibalai kesejahteraan ibu dan anak (BKIA) dan klinik keluarga berencana dianjurkan untuk selalu dilakukan tes serologis terhadap virus rubella pada setiap ibu yang diperiksa.           
Vaksinasi menggunakan virus hidup yang dilemahkan boleh diberikan pada penduduk kecuali permpuan yang sedang hamil trimester pertama, virusnya akan menyebabkan kerusakan jaringan pada bayi. Akibatnya, dapat terjadi keguguran, lahir mati, atau lahir  dengan cacat bawaan berupa kerusakan otak, mental, retardasi, tuli, kongenital katarak (buta), cacat jantung bawaan, splenomegali ataupun hepatomegali.

B.    VARICELLA
Varicella artinya cacar air.varicela terutama merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang terjadi pada masa kehamilan dan nifas.Namun pada wanita hamil dapat terjadi
 Pengaruh varicella pada kehamilan Infeksi varicela pada ibu hamil trimester I mungkin menyebabkan cacat bawaan seperti korioretinitis, atrofifikorteks serebri, hidronefrosis dan kelainan pada tulang dan kulit. Jika infeksi ini terjadi pada usia kehamilan 13-20 minggu dapat terjadi kelainan, tetapi jikainfeksi ini terjadi setelah 20 minggu umumnya tidak terjadi kelainan.
Masa inkubasi virus varisela umumnya kurang dari 2 minggu. Jika persalinan terjadi sebelum masa ingkubasi atau pada persalinan, maka karena antibody pada tubuh ibu belum terbentuk, bayi akan terinfeksi dan menimbulkan cacat pada usus dan susunan saraf pusat

Penularan varicella     
Penularannya melalui udara bersama titik ludah atau melalui kontak langsung dan tidak langsung dengan lesi kulit penderita


C.    HERPES
Infeksi herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan. Walaupun demikian, penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit di seluruh badan, atau pada konjungtiva dan selaput lendir mulut. Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus.Virus tipe II dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva, vagina, dan servik, yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks.Penularan kepada anak dapat terjadi melalui:
-       Hematigen melalui plasenta
-       Akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah
-       Melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir

Diagnosis tidak sulit yaitu apabila terdapat gelambung-gelambung di daerah alat kelamin, ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epitel vulva, vagina atau servik setelah dipulas menurut papanicolau, memberi kepastian dalam diagnosis.
Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik, recurrent, dan dapat dikatakan sulit diobati. Sampai saat ini hanya satu cara pengobatan herpese yang cukup efektif, yaitu antivirus yang disebut acyclovir. Obat-obat analgetik dipakai untuk mengurangi rasa nyeri di daerah vulva. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan, kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu, seperti adanya ensefalitis, pneumonitis, dan atau hepatitis, dimana acyclovir dapat diberikan secara IV. SC dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genetalia, untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. Karena bila dengan persalinan pervaginam 50% bayi akan mengalami infeksi. Pada pasca persalinan, ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan mengganti baju yang bersih.

D.    TOXOPLASMOSIS
a.  Temuan klinis
Infeksi ini disebabkan oleh toksoplasmosis gondii. Protozoa ini banyah terdapat pada anjing, kucing, tikus dan binatang lainnya. Protozoa ini dapat menular pada manusia dengan gejala klinis infeksi pada kelenjar limfe-membengkak, nyeri dan mungkin terjadi abses.Infeksi lainnya dapat terjadi pneumonia, poliomilitis, dan miokarditis.
Pengaruh terhadap kehamilan dapat menimbulkan keguguran persalinan prematuritas dan dapat terjadi cacat bawaan seperti hidrosefalus, mikrosefalusm, anensefalus, meningoensefalitis, dan kelainan pada mata. Untuk menghindari infeksi toskoplasmosis sebainya menghindari memelihara binatang  peliharaan atau binatang dengan mendapat pengawasan dokter hewan.
BBL dengan menderita toxoplasma congenital terinfeksi saat berada di dalam uterus secara transplacental. Choriuretinitis merupakan manifestasi klinis yang serinng muncul apada BBL sebagai gejala toxoplasma.

b.  Penularan
1.    Kucing
Organisme tempat toxoplasma gondii hidup adalah kucing. Sekitar ½ dari beberapa kucing yang diuji mempunyai antibody toxoplasma. Ini berarti bahwa kucing tersebut terinfeksi karena memakan hewan pengerat dan burung pemakan daging yang terinfeksi. Satu minggu setelah terinfeksi, kucing mengeluarkan oocyst yang terdapat pada fesesnya. Pengeluaran oocyst terus menerus sampai sekitar 2 minggu sebelum kucing itu sembuh atau pulih kembali. Hewan ini mudah terinfeksi lagi dan dapat mengeluarkan oocyst ketika terinfeksi oleh organisme lain.Feses kucing sudah sangat infeksius. Oocyst dalam feses menyebar melalui udara dan ketika dihirup akan dapat menyebabkan infeksi. Sporulasi organisme ini terjadi setelah 1-5 hari dalam kotoran dan dapat dicegah dengan pembuangan sampat setiap hari. Jika oocyst terkandung dalam tanah sisa-sisa partikel berada di atasnya dan akan terbawa arus air hujan. Sisa oocyst dapat bertahan hidup sampai lebih dari 1 tahun tetapi tidak aktif dalam C atau terkontak dengan ammonia,°keadaan beku, kekeringan, panas lebih dari 50  biodin atau formalin.

2.    Daging
Wabah “christiaan barand” adalah contoh penularan toxoplasma melalui daging. Konsumsi daging yang terinfeksi adalah penyebab utama toxoplasma di Eropa, dimana dibatasinya penggunaan lemari pendingin dan biasanya daging tidak dibekukan. Seharusnya daging dimasak pada suhu yang tinggi untuk mecegah terjadinya penularan toxoplasma.

c.   Diagnosis
1.    Ibu
Diagnosa klinis toxoplasma akut tidak dapat dipercaya apabila tidak ditemukan tanda yang spesifik berkaitan dengan infeksi. Namun demikian toxoplasma akut harus dipertimbangkan pada setiap wanita hamil dengan limfa denopati, utamanya meliputi rahim posterior, dan atau gejala mononucleosisslike.Diagnosa utama infeksi toxoplasma selama kehamilan adalah meliputi salah satu dari hal berikut:
-     Menunjukan hasil yang positif pada uji yang dilakukan
-     Terjadi peningkatan antibody yang diperoleh dari serum ibu pada dua kali pemeriksaan yang berbeda, atau
-     Terdeteksi antibody IgM toxoplasma

Pada usia remaja dengan infeksi primer jarang terjadi perkembangan antibody IgG dan IgM. Antibody IgG spesifik toxoplasma berkembang dalam waktu 2 minggu setelah terinfeksi dan berlangsung selamanya UJI IVA (Indairec immaunofluorescence Antibody Test untuk IgM toxoplasma spesifik biasanya menunjukan kadar yang tinggi pada 6 bulan setelah terinfeksi, berikutnya titer akan menurun. Uji IVA lebih bermanfaat dari uji Elisa dalam membedakan infeksi adanya primer pada wanita hamil

2.    Anak
Gejala klinis pada bayi baru lahir akan dapat ditemukan seperti pada temuan diatas. Gejala klinik yang paling banyak ditemukan adalah chorioretinitis, penyakit kuning, demam, dan hepatosplenomegali. Adanya IgM toxoplasma spesifik pada bayi baru lahir memperjelas diagnosa infeksi congenital. Adanya kista toxoplasma gondii pada pemerikaan histology plasenta juga mendukung kuat diagnosa infeksi pada bayi.

3.    Diagnosa prenatal
Mendiagnosa toxoplasma pada kehamilan dipercaya dengan cairan amnion atau darah janin yang dapat didiagnosa dengan amniosentesis atau cordosentesis.IgM spesifik toxoplasma jika didapatkan pada darah janin dari cordosentesis dapat pula digunakan untuk mendiagnosa infeksi janin namun sayangnya antibody IgM janin sedikit berekembang sampai umur kehamilan 21 sampai 24 minggu.

d.  Penatalaksanaan dan pencegahan
1.    Ibu
Prognosa pada infeksi yang akut baik, kecuali pada keadaan imonosekresi yang amat besar. Wanta hamil dengan infeksi akut dapat dirawat dengan kombinasi pyrimethamine, asam folimik dan sulfonamide. Dosis standar pyrimethamine adalah 25 mg/hari/oral dan 1 gr sulfadiazine peroral 4 X/hari selam 1 tahun. Pyrimethamine adalah musuh dari asam folik dan oleh karena itu mungkinmemberikan efek teratogenik jika diberikan pada trimester I. Asam folimik diberikan dengan dosis 6 mg secara IM atau per oral setiap pada hari yang berbeda untuk mengetahui apakah benar habisnya asam folat disebsbkan oleh Pyrimethamine.
Spiramycin adalah ejen lainyang digunakan pada pengobatan toxoplasma akut dan dapat diperoleh pada pusat pengontrolan penyakit di USA, ini biasa digunakan di Eropa dan karenanya tidak ada pengawasan yang baik terhadap kemanjuran obat ini

2.    Janin
Adanya gejala infeksi pada bayi lahir harus ditangani dengan pemberian pyrimethamine dengan dosis 1 mg/kg/hr/oral selam 34 hari, dilanjutkan dosis 0,5 mg/kg/hr selam 21-30 hari dan sulfadiazine dengan dosis 20 mg/kg per oral selam 1 tahun. Pada saat menginjak remaja diberikan asam folimik 2-6 mg secara IM atau oral 3 X seminggu walaupun pada saat bayi dia mendapatkan pyrimethamine. Infeksi congenital pada bayi baru lahir bukan merupakan infeksius, oleh karena itu tidak perlu diisolasi. Bayi baru lahir yang tidak menunjukan infeksi dan positif antibody IgG toxoplasma spesifiknya mungkin didapatkan dari ibunya secara transplasetal. Pada bayi yang tidak ditemukannya temuan yang lain yang mencurigakan terjadinya infeksi congenital harus dipantau, apabila tidak terinfeksi harus menunjukan adanya penurunan titer antibody IgG terhadap toxoplasma.

 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Infeksi yang menyertai kehamilan dan persalinan. Diakses pada tanggal 16 Maret 2011 dalam http://www.g-excess.com/id/askeb-asuhan-kebidanan/infeksi-yang-menyertai-kehamilan-dan-persalinan-pada-ibu-hamil.html

Diktat kuliah mikrobiologi. 2009

Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta. EGC

Nuswantari, Dyah. 1998. Dorland edisi 25. Jakarta. EGC

Soedarto.2009. penyakit menular di Indonesia. Jakarta. Sagung Seto

Sarwono, prawirohardjo. 2006. Ilmu kebidanan edisi 3. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka

Sarwono, prawirohardjo. 2007. Ilmu kebidanan edisi 4. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka
           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar